Pages

Subscribe:

Jumat, 11 Mei 2012

AMERIKA PERMUDAH PELAJAR INDONESIA

Jakarta – Jumlah pelajar Indonesia di Amerika Serikat (AS) tidak sebanyak dulu. AS pun menggunakan berbagai jurus untuk menggaet pelajar Indonesia.
“Dubes Amerika untuk Indonesia Scot Marciel ingin mempromosikan lebih banyak lagi supaya banyak pelajar yang sekolah ke Amerika,” ujar Ketua DPD Irman Gusman usai pertemuan dengan Marciel di kantor Irman, Senayan, Jakarta, Senin (30/4/2012).
Pertemuan berlangsung selama sekitar 1,5 jam. Marciel mengenakan jas hitam.
Menurut Irman, jumlah pelajar Indonesia dulunya sekitar 17 ribu. Kini pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di negeri Paman Sam itu hanya sekitar 6 ribu.
Karena itu, lanjut Irman, AS akan meningkatkan beasiswa bagi pelajar Indonesia. Hal ini bertujuan agar mahasiswa yang menuntut ilmu di AS bertambah.
Dalam kesempatan itu, Marciel juga bertukar pikiran terkait perkembangan demokrasi di Indonesia. Marciel dan Irman juga membicarakan tentang hubungan perdagangan, ekonomi.
“Jadi dia merasa Indonesia-AS itu harus lebih ditingkatkan hubungan people to people -nya,” kata Irman. (nik/nwk) http://news.detik.com

GUBURNUR TERPILIH DILANTIK (KRUSEUMANGAT dR.ZAINI ABDULLAH dan MUZAKIR MANAF)

Banda Aceh – Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih, Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, akan dilantik Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi pada 4 Juni 2012 mendatang.
”Informasi yang kami terima dari pusat pada tanggal 4 Juni,” kata Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Hasbi Abdullah kepada Tempo, Kamis, 10 Mei 2012.
Hasbi mengatakan pelantikan akan dilaksanakan di gedung parlemen Aceh. Tidak ada kendala apa pun untuk pelaksanaan pelantikan, mengingat Mahkamah Konstitusi (MK) juga telah memutuskan menolak gugatan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan terhadap hasil Pilkada Aceh 9 April 2012.
Menurut Hasbi, pihak Kementerian Dalam Negeri sedang menunggu keluarnya Peraturan Presiden RI tentang penetapan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017. “Semoga jadwal tanggal 4 Juni seperti yang direncanakan tidak bergeser lagi,” ujarnya.
Setelah dilantik, mereka mempunyai tugas pertama melantik 17 bupati/wali kota yang terpilih dalam Pilkada Aceh lalu. Menurut Hasbi, semakin cepat mereka dilantik, maka program pembangunan di Aceh akan semakin cepat dilaksanakan untuk penyerapan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Aceh (APBA) 2012.
Zaini Abdullah-Muzakir Manaf dari Partai Aceh memenangi pilkada dengan memperoleh suara 1.327.695 atau sekitar 55,77 persen dari total pemilih 2.457.196 orang. Sementara urutan kedua, Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, hanya memperoleh suara 29,18 persen.

Di poskan Oleh: M. Jabalnur, SHI
Sumber: http://atjehlink.com/gubernur-aceh-terpilih-dilantik-4-juni/


KRUSEUMANGAT dR.ZAINI ABDULLAH dan MUZAKIR MANAF

Kru Seumanagat Hai Raja Nanggrou
Nyou Katroh Sampou neu Pimpin Bangsa
Nyou Bangsa Aceh Sabe lam kaco Balo
Akibat Pemerintah Limong Thon Yangka

Nyou Kalinyou Ka Raja Mat Keudrou
Beu ek neupeusampou nyan UU-PA
Nyan UU-PA Cita-cita geutanyou
Supaya meusampou Aceh Mulia

Oleh: M. Jabalnur, SHI

Rabu, 09 Mei 2012

FAKTOR PENYEBUTAN ACEH SEBAGAI SERAMBI MEKAH

          Oleh: M. Jabalnur, SHI
            Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Masuk dan berkembangnya Islam ke Aceh dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam. Ada perbedaan antara pendapat lama dan pendapat baru. Pendapat lama sepakat bahwa Islam masuk ke Aceh abad ke-13 M dan pendapat baru menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali ke Aceh pada abad ke-7 M.
Tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Aceh, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M.
Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Aceh langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Aceh melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Melalui Kesultanan Tidore yang juga menguasai Tanah Papua, sejak abad ke-17, jangkauan terjauh penyebaran Islam sudah mencapai Semenanjung Onin di Kabupaten Fakfak, Papua Barat. (A Mustofa Abdullah,1999: 23)..
Kalau Ahli Sejarah Barat beranggapan bahwa Islam masuk di Aceh mulai abad 13 adalah tidak benar, HAMKA berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatra (Barus) pada saat nanti wilayah Barus ini akan masuk ke wilayah kerajaan Srivijaya. Pada tahun 674M semasa pemerintahan Khilafah Islam Utsman bi Affan, memerintahkan mengirimkan utusannya (Muawiyah bin Abu Sufyan) ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasil kunjungan duta Islam ini adalah raja Jay Sima ptra ratu Sima dari Kalingga masuk Islam (A Mustofa Abdullah, 1999: 29).
Sanggahan Teori Islam Masuk Aceh abad 13 melalui Pedagang GujaratTeori Islam Masuk Aceh abad 13 melalui pedagang Gujarat adalah tidaklah benar, apabila benar maka tentunya Islam yang akan berkembang kebanyakan di Aceh adalah aliran Syiah karena Gujarat pada masa itu beraliran Syiah, akan tetapi kenyataan Islam di Aceh didominasi Mashab Safi'i.
Datangnya Islam ke Aceh dilakukan secara damai, dapat dilihat melalui jalur perdagangan, dakwah, perkawinan, ajaran tasawuf, ilmu tauhid dan tarekat, serta jalur kesenian dan pendidikan, yang semuanya mendukung proses cepatnya Islam masuk dan berkembang di Aceh. Karena sebelum agama Islam masuk ke Aceh, berbagai macam agama dan kepercayaan seperti Animisme, Dinamisme ( percaya benda hidub dan benda mati ) , Hindu, dan Budha telah dianut oleh masyarakat Aceh Bahkan pada abad 7-12 M di beberapa wilayah Aceh telah berdiri kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha.Masuknya Islam ke Aceh pertama kali pada abad pertama hijriah kira-kira abad ke-7 M. Islam masuk ke Aceh melalui dua jalur yaitu: (a). Jalur Utara dengan rute: Arab (Mekkah dan Madinah), Damaskus, Bagdad, Gujarat (Pantai Barat India), Srilanka dan Indonesia dan (b). Jalur Selatan dengan rute: Arab (Mekkah dan Madinah), Yaman, Gujarat, Srilanka, Indonesia. 
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagangpedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka lama kelamaan  menjadi banyak.               
 Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki Islam adalah pantai Sumatra bagian Utara. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Islam telah tersebar keseluruh pelosok kepulauan Indonesia, sehingga mayoritas Masyarakat Aceh beragama Islam. Para pedagang dari India yakni bangsa Arab, Persi, dan Gujarat yang juga mubalig Islam banyak yang menetap dibandar-bandar sepanjang Sumut. Mereka menikah dengan wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah di Islamkan, sehingga terbentuklah keluarga-keluarga Muslim.Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya bedakwah kepada para penduduk biasa tetapi juga kepada raja-raja kecil hingga akhirnya berdiri kerajaan Islam pertama yaitu Samudra Pasai dengan perkembangan islam di Aceh, Agama Islam telah mampu mengadakan perubahan masyarakat di tanah Arab dari kehidupan barbar menjadi kehidupan yang berperadaban. Islam telah mampu menata kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokrasi. dan, Islam telah mampu menghapuskan kehidupan feudal( MENGUASAI ) menjadi kehidupan demokrasi.
  Sampai memasuki zaman melinium yaitu Tahun 2000 lengkaplah  islam memasuki seluruh sendi-sendi masyarakat Aceh  hingga seratus persen masyarakat pribumi adalah islam  sehingga dengan adanya bermacam gejolak politik antara Aceh dengan Jakarta hingga lahirlah qanun yang mengesahkan  pelaksanaan Syariat Islam di Aceh tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.
Aceh sebagai sebuah kerajaan Islam yang pernah terkenal di wilayah Asia Tenggara pada masa dahulu telah ditabalkan sebagai daerah Serambi Makkah. Penyebutan Serambi Mekkah untuk Aceh bukan merupakan sebuah peristiwa, akan tetapi merupakan sebuah ungkapan apresiasinya masyarakat muslim, setidak-tidaknya masyarakat muslim Asia Tenggara terhadap Aceh yang begitu gigih mengembangkan dan mempertahankan Islam sebagai agama yang suci. Sebagaimana ditunjukkan oleh sejarah bahwa masyarakat Aceh telah lama memeluk Islam yaitu sekitar tahun 800 Masehi. Sejak itu mereka telah menjadikan Islam sebagai barometer dalam meniti kehidupan. Apabila persoalan yang timbul dalam perjalanan kehidupan, mereka lebih senang merujuk pada ajaran Islam untuk mencari solusinya. Bahkan dapat dikatakan Islam menjadi rujukan utama bagi masyarakat Aceh dalam menyelesaikan segala permasalahan baik persoalan politik, ekonomi, sosial budaya dan juga sosial keagamaan. Realitas itulah para penganut Islam di kawasan lain memahami bahwa agama Islam memiliki akar yang kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. (Umar kayam:1989; 37-38 )
Negeri Aceh pada abad ke 15 M pernah mendapat gelar yang sangat terhormat dari umat Islam nusantara. Negeri ini dijuluki “Serambi Makkah” sebuah gelar yang penuh bernuansa keagamaan, keimanan, dan ketaqwaan. Menurut analisis pakar sejarawan, ada 5 sebab mengapa Aceh menyandang gelar mulia itu.
1.       Aceh merupakan daerah perdana masuk Islam di Nusantara, tepatnya di kawasan pantai Timur, Peureulak, dan Pasai. Dari Aceh Islam berkembang sangat cepat ke seluruh nusantara sampai ke Philipina. Mubaligh-mubaligh Aceh meninggalkan kampung halaman untuk menyebarkan agama Allah kepada manusia. Empat orang diantara Wali Songo yang membawa Islam ke Jawa berasal dari Aceh, yakni Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Syarif Hidayatullah, dan Syeikh Siti Jenar.
2.       Aceh pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan di Nusantara dengan hadirnya Jami’ah Baiturrahman (Universitas Baiturrahman) lengkap dengan berbagai fakultas. Para mahasiswa yang menuntut ilmu di Aceh datang dari berbagai penjuru dunia, dari Turki, Palestina, India, Bangladesh, Pattani, Mindanau, Malaya, Brunei Darussalam, dan Makassar.
3.       Kerajaan Aceh Darussalam pernah mendapat pengakuan dari Syarif Makkah atas nama Khalifah Islam di Turki bahwa Kerajaan Aceh adalah “pelindung” kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara. Karena itu seluruh sultan-sultan nusantara mengakui Sulatan Aceh sebagai “payung” mereka dalam menjalankan tugas kerajaan.
4.       Aceh pernah menjadi pangkalan/pelabuhan Haji untuk seluruh nusantara. Orang-orang muslim nusantara yang naik haji ke Makkah dengan kapal laut, sebelum mengarungi Samudra Hindia menghabiskan waktu sampai enam bulan di Bandar Aceh Darussalam. Kampung-kampung sekitar Pelanggahan sekarang menjadi tempat persinggahan jamaah haji dulunya.
5.       Banyak persamaan antara Aceh (saat itu) dengan Makkah, sama-sama Islam, bermazhab Syafi’i, berbudaya Islam, berpakaian Islam, berhiburan Islam, dan berhukum dengan hukum Islam. Seluruh penduduk Makkah beragama Islam dan seluruh penduduk Aceh juga Islam. Orang Aceh masuk dalam agama Islam secara kaffah tidak ada campur aduk antara adat kebiasaan dengan ajaran Islam, tetapi kalau sekarang sudah mulai memudar.

Rujukan:
A.Mustofa,Abdullah,Perkembangan Islam di Nusantara ( Wahana Jakarta pada Tahun 1999)

Alfian Ibrahim, Sastra Perang : Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Prang Sabil, (  Penerbit Balai Pustaka, Tahun  Tahun 1992 )

Muhammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1960)
Umar Muhammad, Peradaban Rakyat Aceh, ( Penerbit Yayasan Busafat Banda Aceh,  Tahun 2006 ).
Muh.Asnawi, Sejarah Kebudayaan Islam,  ( Penerbit, Aneka Ilmu Anggota IKAPI Seumarang Tahun 2006