Pages

Subscribe:

Jumat, 18 Mei 2012

PARTAI ACEH BERDUKA

PA Kibar Bendera Setengah Tiang

LHOKSEUMAWE - Ribuan warga dan sejawat mengambil kesempatan melayat ke rumah Syukri Abdullah (35) alias Gamkuek di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe, Rabu (16/5) yang tewas ditembak petrus (penembak misterius).

Pantauan Serambinews.com, Partai Aceh (PA) mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka atas meninggalnya sekretaris Partai Aceh (PA ) Lhokseumawe itu

Isak tangis tak terbendung dari sejumlah keluarga dan teman dekat mantan anggota kombatan GAM itu.

Jenazahnya yang diarak dengan berjalan kaki sejauh hampir satu kilometer dari rumah duka ke pemakaman di Kuburan Cot Trieng di Bukit Panggoi, sehingga sempat memacetkan jalan negara Banda Aceh--Medan selama 20 menit. Iringan mobil mewah mengikuti di belakang jenazah sambil bersalawatkepada Nabi Muhammad saw.

Sebagaimana diberitakan, Gamkuek alias Pangkuek, Korban  tadi malam dengan menggunakan mobil CRV berlogo PA pulang dari Banda Aceh. Dalamnya ada Cut Yetty dan seorang anak usia 15 tahun.

Sampai di daerah Paya Rangkulueh, Bireuen, mobil korban disalib sebuah mobil yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Saat kedua mobil bersejajar di jalan satu arah itu, penumpang dari mobil tersebut langsung menembak ke mobil Gamkuek

PANGKUEK dan CUT YETTI TEWAS DI BRONDONG


A A A
Aceh - Jumat, 18 Mei 2012 00:39 WIB
Cut Yetty dan Pang Kuek Tewas Diberondong OTK
(Analisa/helmi azhari). Jenazah Cut Yetty diangkat ke dalam ambulans PT PIM setelah beberapa jam disemayamkan di Instalasi Jenazah RSUD dr Fauziah Bireuen pasca pemberondongan di Kutablang yang juga menewaskan Sekretaris DPW-PA Kota Lhokseumawe, Syukri Abdullah, Rabu (16/5) dinihari.
Bireuen, (Analisa). Cut Yetty Indra (39), sosok yang pernah heboh dalam kasus penggelapan ratusan unit mobil rental di Aceh, tewas diberondong orang tak dikenal (OTK) di jalan negara Desa Paya Rangkulueh Kecamatan Kutablang Kabupaten Bireuen, Rabu (16/5) pukul 00.05 dinihari dalam perjalanan pulang dari Pidie.
Dalam kejadian itu, rekannya Syukri Abdullah alias Pang Kuek, juga tewas setelah beberapa butir peluru menembus dadanya. Syukri Abdullah dikenal sebagai sekretaris DPW Partai Aceh (PA) Kota Lhokseumawe.

Cut Yetty tercatat sebagai warga Kompleks PT PIM Krueng Geukueh, Aceh Utara. Sedangkan Syukri merupakan penduduk Desa Panggoi Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. Seorang korban lainnya,TM Yasir (16) warga Blang Seupeung Kecamatan Peukan Baro Kabupaten Pidie.

Yasir yang masih berstatus pelajar dan disebut-sebut sebagai sepupu Cut Yetty, mengalami luka memar di sekujur tubuh akibat benturan mobil yang oleng pasca penembakan itu. Korban menempati bangku tengah mobil Honda New CRV yang dikemudikan Pang Kuek.

Jenazah Cut Yetty yang sempat disemayamkan di RSUD dr Fauziah Bireuen, dijemput keluarganya menggunakan ambulan milik PT PIM, Rabu (16/5) sekitar pukul 10.00 WIB. Sementara, jenazah Syukri Abdullah dijemput lebih awal empat jam dari ruang instalasi jenazah rumah sakit tersebut.

Informasi tewasnya Cut Yetty beredar sangat cepat di sejumlah kalangan di Aceh. Bahkan menjelang pemulangan jenazah di RSUD dr Fauziah pada Rabu siang, beberapa orang yang mengaku warga dari luar Kabupaten Bireuen juga hadir untuk memastikan kebenaran informasi yang diterima.

Kapolres Bireuen, AKBP Yuri Karsono SIK dalam keterangan pers dua jam setelah evakuasi jenazah Cut Yetty dari rumah sakit mengatakan, korban diberondong menggunakan senjata jenis AK. Di lokasi penembakan, polisi berhasil menemukan tujuh butir selongsong peluru jenis senjata tersebut.

Dibuntuti

"Berdasarkan keterangan saksi, korban diberondong kawanan pelaku menggunakan satu unit mobil Avanza warna silver. Kami memperkirakan, penembakan terjadi pada radius 10 meter. Korban diduga sudah dibuntuti sejak awal," kata Kapolres.

Setelah memuntahkan 10 butir peluru ke mobil korban, pelaku langsung melarikan diri ke arah Lhokseumawe. Sementara mobil korban yang tidak terkendali lagi, oleng dan membentur beberapa bagian median jalan sepanjang hampir 500 meter.

Dalam perjalanan dari Sigli, awalnya hanya ada Cut Yetti dan Syukri Abdullah di dalam mobil itu, sesampainya di Batee Iliek, Samalanga, TM Yasir ikut menumpang. Diduga sebelumnya Yasir juga rombongan dari Cut Yetty yang menaiki mobil lain.

Mobil korban mengalami kerusakan yang sangat parah. Selain akibat benturan keras, juga disebabkan tembakan yang mengenai beberapa bagian mesin. Di bagian dalam mobil, tampak berceceran bercak darah yang sudah mengering.

Berdasarkan beberapa alat bukti yang telah dibukukan, polisi akan terus mengusut dan mendalami kasus ini, juga mengejar gerombolan pelaku penembakan yang diduga banyak pihak terkait dengan kasus penggelapan mobil yang pernah melibatkan korban.

"Itu masih merupakan dugaan atau perkiraan saja, namun berdasarkan hasil sementara olah TKP, penyidik menyimpulkan motif penembakan adalah murni pembunuhan berencana. Korban sudah dibuntuti sebelum diberondong," tegas Kapolres.

PT Years Group

Berdasarkan catatan media dan hasil penelusuran Analisa, Cut Yetty Indra dikenal luas di kalangan masyarakat setelah terungkapnya kasus penggelapan sekitar 500 unit mobil rental di Aceh sekitar awal 2007. Sosok isteri karyawan PT PIM itu berawal mendirikan perusahaan PT. Years Group yang beralamat di Kota Lhokseumawe.

Perusahaan itu menjalankan bisnis sewa (rental) mobil. Ratusan unit mobil yang dikelola Cut Yetty bahkan didatangkan dari Medan. Kala itu Aceh baru saja menghirup udara damai pasca MoU Helksinki. Walhasil, di berbagai pelosok mobil mewah via Cut Yetty bertebaran.

Singkat kisah, Cut Yetty diamankan polisi menyusul terciumnya aksi penipuan yang merugikan banyak orang dalam bisnis yang dilakoninya. Yetty kemudian divonis 20 bulan penjara pada 10 November 2008.

Selama menjalani hukuman, Cut Yetty sempat dipindahkan dari Lapas Lhokseumawe ke Lapas Jantho. Perlahan, namanya menghilang di ruang publik dan baru mencuat kembali ketika ia dan rekannya Pang Kuek, tewas diberondong OTK di Bireuen, Rabu (16/5) dinihari. (hel)

Sumber: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/05/18/5119/cut_yetty_dan_pang_kuek_tewas_diberondong_otk/#.T7cVeFI4eMM
 

Selasa, 15 Mei 2012

Pendidikan Sultan Iskandar Muda

M. Jabalnur, SHI

Sultan lskandar Muda yang pada masa bayinya sering disebut Tun Pangkat Darma Wangsa, (Zainuddin: 1957, 21) dibesarkan dalam lingkungan keluarga istana, sehinga sejak masa kecilnya telah mengetahui bagaimana seluk beluk kehidupan adat dan tata kerama dalam istana, baik dalam hal sopan santun antar anggota keluarga raja maupun dalam urusan penyambutan tamu dan lain sebaginya. Sejak usia antara 4 dan 5 tahun kepadanya telah diajarkan berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan Agama dengan cara menghadirkan ulama sebagai gurunya. Selain dia, ke dalam istana diikutsertakan juga teman-temannya yang lain untuk belajar bersama. (Zainuddin, 1957: 20) 
Ketika usianya mencapai baligh, ayahnya menyerahkan Iskandar Muda bersama beberapa orang budak pengiringnya kepada Teungku Di Bitai (salah seorang ulama turunan Arab dari Baitul Mukadis yang sangat menguasai ilmu falak dan ilmu firasat). Dari ulama ini secara khusus dia mempelajari ilmu nahu. Melihat kecerdasan, ketekunan, kemuliaan sikap dan tingkah laku lskandar Muda telah menjadikannya sebagai salah seorang murid yang paling disayangi oleh Teungku Di Bitai. Karena itu, pada suatu hari gurunya diilhami untuk memberikan satu nama kebesaran kepadanya dengan gelar Tun Pangkat Peurkasa Syah (Zainuddin, 1957: 27). Semenjak saat itu, panggilan Peurkasa terhadap Iskandar Muda yang masih muda belia semakin populer bukan hanya di kalangan istana saja tetapi julukan itu semakin terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri.
Dalam kurun-kurun berikutnya, ayahnya Sultan Mansursyah mulai menerima kedatangan ulama-ulama terkenal dari Mekah, di antaranya Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar dan Sekh Muhammad Jamani yang keduanya ahli dalam bidang ilmu fiqah, tasawuf dan ilmu falak. Selanjutnya hadir lagi seorang ulama yang sangat termasyhur dari Gujarat yakni Sekh Muhammad Djailani bin Hasan Ar-Raniry. Ketiga orang ulama ini telah banyak berjasa dalam mengajarkan dan mengilhami wawasan intelektual Iskandar Muda. Selain itu, dia juga rajin mendatangi dan bertanya kepada ulama-ulama lain yang berada di luar istana untuk mempejarai berbagai ilmu yang belum diketahuinya. Pada saat menjelang dewasa, karena Iskandar Muda memiliki keberanian yang luar biasa dibanding orang lain dalam hal menegakkan kebenaran, maka kawan-kawannya dari barisan pemuda memberinya gelar Peurkasa Alam yang belakangan juga dikenal dengan sebutan Makota (Meukuta) Alam