Pages

Subscribe:

Sabtu, 05 Mei 2012

SIAPA dR. ZAINI ABDULLAH dan MUZAKIR MANAF

Tak kenal, maka tak sayang. Barangkali pepatah itu begitu merasuk di hati pria pendiam yang kini bermukim di Swedia, Dr Zaini Abdullah, Menteri Luar Negeri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saat ia bertemu dengan seseorang yang baru pertama dijumpainya. Bisa jadi sikapnya itu sebagai bagian dari perasaan untuk selalu waspada dalam berinteraksi. Apalagi sebuah pertemuan dengan seorang wartawan Indonesia. Situasi ini dialami Media saat menjumpainya di kediaman Syarif Usman, Minggu lalu (18/9). Seusai diperkenalkan, Zaini tak banyak bicara, atau melontarkan pertanyaan, seperti yang dilakukan oleh Teungku Malik Mahmud, Perdana Menteri GAM yang hadir dalam kesempatan itu. Meski demikian, dalam beberapa kesempatan, Zaini terlihat mencuri pandang. Matanya menatap tajam, mungkin ia tengah menafsirkan tetamu yang datang padanya di siang hari cerah itu. Ia tampak diam menunggu, dibandingkan dengan melontarkan satu pernyataan dari mulutnya. Untunglah situasi itu tak lama. Setelah “mengenal” karakter dan personalitas lawan bicaranya, Zaini berubah menjadi sosok yang hangat, ramah, menyenangkan, penuh tawa, kebapakan, dan sangat rendah hati. Pribadinya santun, menghormati setiap orang tanpa pandang bulu.” Saya tak banyak beda dengan tipikal orang Aceh lainnya. Baik dalam bermasyarakat, bergaul, maupun soal adat istiadat,” ungkapnya tersenyum menjawab pertanyaan Media soal sikapnya yang pendiam dan terkesan menyelidik itu. Di desa Bernun, satu desa yang terletak di pedalaman Kabupaten Pidie, Zaini dilahirkan. Tepatnya pada tanggal 24 April 1940. Namun usianya yang sudah menginjak kepala enam itu tak nampak dalam dalam gesture tubuhnya. Ia terlihat awet muda. Sebagian kecil rambut dan alisnya mulai memutih. Kondisi yang sama juga bisa dilihat pada kulit tangannya yang masih segar. Sedikit kerutan tampak menggurat di wajahnya yang bersih.”Ini adalah bagian rahasia orang Aceh. Rajin minum jamu, hidup sederhana dan bekerja keras,” tuturnya sambil tersenyum. Sejak kecil, pria yang dibesarkan dalam keluarga yang mementingkan pendidikan ini gemar merantau. Masa sekolah 12 tahun dijalaninya secara berpindah-pindah, mulai dari Banda Aceh hingga ke Medan. Dengan vespa kesayangannya, Zaini melintasi medan perjalanan yang teramat berat. Diperlukan waktu sekitar 1-2 minggu untuk mencapai tujuan, karena jalanan yang teramat parah, dan penuh genangan. Kondisi ini dijalaninya hingga ia lulus Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) Medan di tahun 1972. Beragam pengalaman masa kecil inilah yang kelak menempanya menjadi sosok pribadi yang kuat, tahan banting, dan memiliki rasa percaya diri tinggi Hidupnya berjalan mengalir tanpa ada sesuatu yang berarti. Semua berjalan sesuai cita-cita yang diinginkannya. Ia pun mulai membuka praktek dokternya di Kuala Simpang hingga 4 tahun lamanya. Pasiennya sudah mulai banyak dan ia menjadi salah satu dokter yang disegani di wilayah itu. “Selama itu hidup saya biasa-biasa saja. Tak banyak gejolak,” papar alumnus Fakultas Kedokteran USU tahun 1972 ini. Tapi kepribadian Zaini yang pendiam ini berubah menjadi bara ketika ia bertemu Teungku Hasan Tiro. “Saya mulai dihadapkan dalam suatu kenyataan yang sesungguhnya. Saya merasa memiliki kewajiban untuk mengembalikan kemerdekaan bangsa Aceh,” cerita Zaini tentang pergulatan yang terjadi di tahun 1976 itu. “Apa yang saya baca tentang sejarah Aceh yang diajarkan dari SD hingga SMA selama ini hanyalah setebal 5 halaman. Padahal Aceh memiliki sejarah yang luar biasa. Aceh begitu kaya, dan memiliki semangat perjuangan untuk memerdekakan dirinya” tukasnya berapi-api. Setahun setelah itu, Zaini memilih tinggal di hutan-hutan Aceh, berjuang bersama Teungku Hasan Tiro hingga 4 tahun lamanya. Meninggalkan profesinya sebagai dokter umum dan tidak melanjutkan pendidikannya di spesialis kebidanan yang sudah dijalaninya beberapa tahun terakhir. Karena situasi yang sangat mendesak, sejak tahun 1981, Zaini berangkat ke Medan. Dari sini ia lantas melanjutkan perjalanannya menuju Singapura, dan Swedia 3 bulan berikutnya.. Terkatung-katung di negeri orang sangatlah tidak nyaman. Perbedaan budaya, bahasa, cuaca mempengaruhi dirinya. Apalagi saat ia datang ke Swedia, nama itu belum begitu dikenalnya. “Saya ingat tuh,, jadi kita mau ke Switzerland?,” Zaini terbahak-bahak hingga airmatanya menggenang di pelupuk matanya, mengingat satu pertanyaan yang diajukannya pada Teungku Hasan.”Jadi saya pikir saya pergi ke Switzerland,” ia kembali menegaskan. “Jangan dipikir bahwa hidup di negeri orang itu enak,” tandasnya soal beratnya beban yang dipikul selama ia menjadi seorang imigran. Ia harus bekerja ekstra untuk bisa menghidupi dirinya. Ijazah dokternya tak berarti apa-apa. “Saya harus mempelajari bahasa local, sebelum mengambil pendidikan kedokteran (lagi) di negeri barunya itu. “Saya mulai bekerja sebagai asisten juru rawat, sambil meneruskan kuliah pada bidang spesialis ilmu medicine umum,” kenang Zaini. Setelah itu, baru menjadi juru rawat dan akhirnya bisa buka praktek dokter di sebuah distrik di wilayah Nordsborg setelah bertahun-tahun memiliki pengalaman. Lantas perjuangan apa yang dilakukan setelah Zaini sibuk dengan profesinya dan di dalam kenikmatan negara Swedia yang memberikan kesejahteraan kepada para warganya itu? “Justru disinilah kami secara langsung belajar tentang pemerintahan. Bagaimana negeri ini bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya. Bagaimana rakyat bisa mengkritik pemerintah. Bagaimana demokrasi dijunjung tinggi,” ia memberi alasan. ”Perjuangan tetap saya tegakkan, melalui diplomasi dan perundingan, seperti perundingan di Jenewa lalu,” tuturnya. Tak mudah memang melakukan perjuangan itu. Seringkali kekecewaan dialami bertumpuk-tumpuk. Tapi ia terus berjuang dengan berbagai cara untuk mewujudkan “kemerdekaan” bangsa Aceh dalam arti yang sesungguhnya. “Yang kami inginkan bukanlah otonomi khusus ataupun sebagainya. Yang kita harapkan saat itu adalah “kemerdekaan” bangsa Aceh, dalam arti sesungguhnya. Bebas dari ketakutan, bebas bersekolah,” ia menggebu-gebu dalam bahasa yang santun. Namun sesungguhnya yang ingin dibangunnya adalah mengembalikan kejayaan bangsa Aceh seperti di masa lalu. “Kita mengenal pesawat Seulawah, pesawat pertama di Indonesia, Aceh yang punya. Bahkan untuk membangun Monas, Acehlah yang mengirim emas untuk presiden Soekarno. Tapi kenyataannya, perjuangan rakyat Aceh untuk menegakkan kedaulatan Indonesia itu tak dihargai sama sekali,”tukasnya kecewa. Selain itu, Zaini juga mengakui banyaknya kekecewaan yang ditujukan pada pemerintah Indonesia yang seringkali tidak konsisten. Ia mencontohkan bagaimana mereka merasa kesal dengan Megawati yang saat itu menangis di masjid Baiturrahman. “Waktu itu ia mengatakan bahwa tidak akan ada darah lagi menetes di Aceh. Tapi apa yang terjadi ? Ia justru menerapkan darurat militer.” Namun soal pemerintahan SBY, Zaini memberikan poin positif. “Setidaknya mereka lebih berinisiatif untuk membuka pintu perdamaian,” paparnya. Meskipun ia mengakui bahwa pada awalnya ia kurang suka dengan SBY, karena ialah yang menjadi Menkopolkam di masa pemerintahan megawati. Tapi ia yakin dengan ketulusan Jusuf Kalla dan jajarannya. Dan kini beragam kesepakatan dalam perundingan Helzinky sudah mulai menemukan sedikit titik terang dan harapan. Hal ini bukan berarti kemenangan bagi GAM, seperti yang dikhawatirkan berbagai pihak selama ini. Tutur Zaini, “Bagi kami, sebenarnya konsep NKRI merupakan langkah mundur untuk maju. Tapi demi masyarakat Aceh, kami melakukannya.” Karena itu, di ujung pertemuan dengan Media, Zaini masih menitipkan harapan. “Semoga Pemerintah Indonesia ber-commited untuk menjaga perdamaian di Aceh secara bersama-sama.” Zaini terihat serius mengatakannya. Dalam nada yang tegas, penuh harap. [ndis] Pasangan ini, bisa dikatakan pasangan antar lintas generasi, karena mewakili generasi tua dan muda di tubuh organisasi mantan gerilyawan Aceh yaitu GAM yang sekarang sudah berorientasikan ke partai lokal yaitu Partai Aceh. Zaini Abdullah adalah generasi awal di tubuh Gerakan Aceh Merdeka. Lama menetap di luar negeri, lelaki dandy berusia 72 tahun ini memutuskan pulang kampung dan diusung Partai Aceh sebagai calon gubernur Aceh. Zaini dipasangkan bersama Muzakir Manaf, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka pengganti Abdullah Syafie yang kini menjabat Ketua Partai Aceh. Lahir di Aceh Timur, 3 April 1964, Muzakir Manaf adalah sosok yang tak banyak bicara. Pembawaannya tenang dan tidak meledak-ledak. Dalam kampanyenya pasangan ZIKIR (Zaini-Muzakir) ini menjanjikan perubahan perbaikan sistem birokrasi jika terpilih kelak. dr. H. Zaini Abdullah Tempat/tgl lahir : Sigli, 24 April 1940. Jabatan terakhir : Mantan Juru Runding GAM. Pendidikan : Sekolah Rakyat Beureunuen Pidie Tahun 1952, SMP Sigli Pidie tahun 1957, SMA Kutaraja Banda Aceh tahun 1960, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 1972. Muzakir Manaf Tempat/tgl lahir : Aceh Timur, 3 April 1964. Jabatan terakhir : Ketua Partai Aceh dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA). Pendidikan : MIN Sampoiniet tahun 1977, SMP Negeri Idi tahun 1981, SMA Swasta Pase Sejaya Panton Labu Tahun 1984. Visi : Aceh yang bermartabat sejahtera berkeadilan dan mandiri berlandaskan UU Pemerintahan Aceh sebagai wujud MoU Helsinki Misi : Memperbaiki tata kelola pemerintahan aceh yang amanah melalui implemantasi dan penyelesaian turunan UU Pemerintahan Aceh untuk menjaga perdamaian yang abadi. Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan nilai-nilai dinul Islam di semua sektor kehidupan masyarakat. Memperkuat struktur ekonomi dengan kualitas sumber daya manusia. Mewujudkan peningkatan nilai tambah produksi masyarakat dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam. Melaksanakan pembangunan Aceh yang proporsional terintegrasi dan berkelanjutan.